Fotopolimerisasi bejana, khususnya stereolitografi laser atau SL/SLA, adalah teknologi pencetakan 3D pertama di pasaran. Chuck Hull menciptakannya pada tahun 1984, mematenkannya pada tahun 1986, dan mendirikan 3D Systems. Proses ini menggunakan sinar laser untuk mempolimerisasi material monomer fotoaktif dalam bejana. Lapisan yang telah difotopolimerisasi (dikeringkan) menempel pada pelat cetak yang bergerak naik atau turun tergantung pada perangkat keras, memungkinkan lapisan berikutnya terbentuk. Sistem SLA juga dapat menghasilkan bagian yang sangat kecil dan presisi menggunakan diameter sinar laser yang kecil, dalam proses yang dikenal sebagai mikro SLA atau µSLA. Sistem ini juga dapat menghasilkan bagian yang sangat besar menggunakan diameter sinar yang lebih besar dan waktu produksi yang lebih lama, dalam volume cetak yang berukuran lebih dari dua meter kubik.
Printer Stereolithography (SLA) SLA-1, printer 3D komersial pertama, diperkenalkan oleh 3D Systems pada tahun 1987.
Saat ini tersedia beberapa variasi teknologi fotopolimerisasi bejana. Yang pertama muncul setelah SLA adalah DLP (Digital Light Processing), yang dikembangkan oleh Texas Instruments dan dipasarkan pada tahun 1987. Alih-alih menggunakan sinar laser untuk fotopolimerisasi, teknologi DLP menggunakan proyektor cahaya digital (mirip dengan proyektor TV standar). Hal ini membuatnya lebih cepat daripada SLA, karena dapat memfotopolimerisasi seluruh lapisan objek sekaligus (disebut sebagai proses "planar"). Namun, kualitas bagian yang dihasilkan bergantung pada resolusi proyektor dan menurun seiring bertambahnya ukuran.
Seperti halnya ekstrusi material, stereolitografi menjadi lebih mudah diakses dengan tersedianya sistem berbiaya rendah. Sistem berbiaya rendah pertama didasarkan pada proses SLA dan DLP asli. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, generasi baru sistem ultra-murah dan kompak berbasis sumber cahaya LED/LCD telah muncul. Evolusi selanjutnya dari fotopolimerisasi bejana dikenal sebagai fotopolimerisasi "kontinu" atau "tanpa lapisan", yang biasanya didasarkan pada arsitektur DLP. Proses ini menggunakan membran, biasanya oksigen, untuk memungkinkan laju produksi yang lebih cepat dan berkelanjutan. Paten untuk jenis stereolitografi ini pertama kali didaftarkan pada tahun 2006 oleh EnvisionTEC, sebuah perusahaan DLP yang kemudian berganti nama menjadi ETEC, setelah diakuisisi oleh Desktop Metal. Namun, Carbon, sebuah perusahaan yang berbasis di Silicon Valley, adalah yang pertama memasarkan teknologi ini pada tahun 2016 dan sejak itu telah memantapkan dirinya sebagai pemimpin di pasar. Teknologi Carbon, yang dikenal sebagai DLS (Digital Light Synthesis), menawarkan tingkat produktivitas yang jauh lebih tinggi dan kemampuan untuk menghasilkan komponen dengan material hibrida yang tahan lama, menggabungkan termoset dan fotopolimer. Perusahaan lain, seperti 3D Systems (Gambar 4), Origin (sekarang bagian dari Stratasys), LuxCreo, Carima, dan lainnya, juga telah memperkenalkan teknologi serupa ke pasar.
Waktu posting: 29 Maret 2025

